Sedulur Sikep Menjaga Tanah dengan Air Kelapa

25 April 2012 - berita

Tanah niku nggih kados bumi niki, persasat ibune kula piyambak. Artinipun nggih dipun inciki, dianggep saged ngasilaken lan diajeni, amargi maringi sandhang kalawan pangan.

Tanah itu adalah bumi ini yang diibaratkan sebagai ibu kandung. Maksudnya menjadi tempat berpijak, harus dihormati dan dirawat, karena bisa menghasilkan dan memberikan sandang dan pangan.

Begitu pandangan hidup masyarakat Sedulur Sikep, pengikut ajaran Samin Surosentiko, tentang tanah. Bagi mereka, tanah terbagi menjadi dua bagian, tanah garapan dan pekarangan.

Tanah garapan berupa sawah dan kebun untuk memenuhi sandang dan pangan. Tanah pekarangan berupa lahan untuk mendirikan rumah dan melindungi manusia dari panas dan hujan.

”Tanah harus lestari dan tetap sehat. Jika sakit, tanah tidak memberi kesuburan. Jika dijual, tanah tidak lagi menjadi milik sendiri dan tidak bisa diwariskan ke generasi mendatang,” kata Gunretno, tokoh muda Sedulur Sikep Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Kamis (12/4).

Untuk menjaga tanah, terutama sawah, masyarakat Sedulur Sikep baik di Pati maupun di Blora menerapkan pertanian organik. Mereka tak pernah membeli, apalagi menggunakan pupuk dan obat kimiawi dalam mengolah tanah sekaligus merawat tanaman.

Sedulur Sikep di Pati mengembangkan pupuk cair dan tabur organik buatan sendiri. Pupuk cair berupa hasil fermentasi air kelapa, air leri, atau air bekas mencuci beras, daun kelor, dan batang pisang.

Cara membuatnya cukup mudah. Batang pisang dan daun kelor ditumbuk terlebih dahulu. Setelah dicampur dengan air kelapa dan leri, kemudian difermentasi dengan tetes tebu.

”Kalau sudah sebulan difermentasi, pupuk organik cair itu bisa dipergunakan dengan cara disemprotkan ke padi. Selain menyuburkan, bisa mengantisipasi wereng dan sundep,” kata Gunretno.

Adapun pupuk organik tabur, terbuat dari campuran kotoran sapi dan sekam. Pupuk itu dipakai saat mengolah tanah sebelum ataupun setelah tanam.

Menurut Gunretno, hasil panen hampir sama dengan menggunakan pupuk dan obat kimiawi. Penerapan pola pertanian organik bisa menghasilkan gabah kering panen 6 ton per hektar, sedangkan non-organik 7-8 ton per hektar. ”Harga beras organik cukup tinggi, yaitu Rp 12.000-Rp 13.000 per kilogram,” kata dia.

Di Blora, Sedulur Sikep di Dukuh Balong, Kelurahan Sumber, Kecamatan Kradenan, mengembangkan pupuk berbahan baku urine sapi sebagai pengganti pupuk urea. Mereka juga membuat obat pembasmi hama sebagai pengganti pestisida dengan bahan baku tembakau, sabun colek, dan kapur.

Tokoh pengembang pertanian Sedulur Sikep Balong, Widji Slamet (24), mengatakan, pupuk pengganti urea itu campuran urine sapi, daun lamtoro, kembang pisang, jahe, laos, dan kunir. Pemakaiannya cukup hemat, yakni dua gelas pupuk cair urine sapi untuk campuran satu tangki penyemprot padi.

Adapun obat pembasmi hama pengganti pestisida terbuat dari tembakau, sabun colek, dan kapur. Ketiga bahan baku itu direbus selama setengah jam atau tidak sampai mendidih. Setelah disaring, airnya digunakan untuk membasmi sundep atau ulat daun dengan cara disemprotkan.

”Kalau tanaman padi terserang hama, air tembakau yang dicampurkan sebanyak satu liter. Kalau tidak terserang, cukup dua gelas saja,” kata Widji.

Pola pertanian organik diterapkan untuk menjaga kelestarian tanah sawah demi anak cucu. ”Kekayaan alam hendaknya dipelihara dan dijaga kelestariannya dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi kebutuhan hidup anak cucu,” kata Widji. (HENDRIYO WIDI)

(Sumber: cetak.kompas.com. 25 April 2012)

(#93 views)

  Kirim ke Teman   Cetak halaman ini   Posting komentar  Share on Facebook

Komentar Untuk Berita Ini (0)

LAYANAN KAMI

...
Layanan Lain

AGENDA

May 2013
MSSRKJS
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031